Depok, Ujung Pena
Jelang Hari Ulang Tahun ke-20 Kota Depok 27 April mendatang, berbagai kegiatan seperti perlombaan atau festival diadakan seperti, turnamen sepak bola, bola voli dan lainnya.

Rangkaian kegiatan tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah, namun melibatkan seluruh elemen masyarakat yang ada di kota penyangga Ibu Kota Jakarta tersebut.

Sebut saja, turnamen sepak bola piala Wali Kota Depok usai dilakukan dengan tim dari Tapos sebagai juaranya.

Selain itu, Piala Wakil Wali Kota juga ikut menggembirakan seluruh pecinta sepak bola di Kota Depok.

Namun lebih dari itu, ada hal yang lebih menarik dilakukan sekumpulan orang yang menamakan dirinya Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD).

Mereka tidak hanya ikut dalam kegiatan fisik, namun lebih kepada kegiatan melestarikan budaya asli Kota Depok.

Ya, KOOD secara resmi menerbitkan buku atau kamus bahasa.

Kamus dengan judul ‘Kamus Bahasa Depok’ itu mengangkat tema ‘Lestarikan Basa Emak-Baba’.

Didalamnya, telah dirangkum kata-kata keseharian yang digunakan masyarakat Kota Depok pada zaman dulu, asli dari penduduk Depok.

Buku itu nantinya akan launching pada 27 April mendatang, seperti dikatakan Nina Suzana, Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) didampingi Supian Suri, Kepala Badan Kepegawaian dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (BkPSDM), di gedung Baleka II, Pancoran Mas, Kamis (18/4/2019).

Dalam buku tersebut juga, terdapat petikan atau ucapan Wali Kota Depok, Muhammad Idris.

Prakata Idris dalam kamus tersebut semakin menguatkan tujuan buku itu diterbitkan.

Didalamnya, Idris mengucapkan terimakasih kepada penulis dan penerbit dalam bahasa keseharian.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Depok, saya ucapkan terima kasih yang nggak keitung kepada KOOD. Romannya mah sekarang KOOD sregep pisan. Puguh bocah Depok mah kalo udah pada ngumpul kagak boleh awang-awangan. Kudu bikin kegiatan yang positif dan membaur ama orang-orang,” ujar Idris dalan prakatanya.

Selain itu, dalam kamus tersebut juga Idris melengkapi dengan bait pantun asli karyanya.

Karung bukan sembarang karung.
Karung berisi benda keramat.
Nimbrung bukan sembarang nimbrung.
Nimbrung kudu ada manfaat.

Nina Suzana berharap, kamus tersebut dapat menarik minat pembaca, khusus warga depok agar ikut melestarikan bahasa asli Kota Depok. (Lk)