Belasan Siswa SDN Pitara 2 Naik Mobil Bak Terbuka, 1 Nyaris Tertabrak

Depok, Ujung Pena
Belasan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pitara 2 bertingkah tidak layaknya anak-anak. Mereka mulai belajar ngompreng (numpang.red) kendaraan pengangkut barang material.

Fenomena unik tersebut didapat ujung pena di Jalan Pitara Raya, Pancoran Mas, Depok. Belasan pelajar tingkat sekolah dasar secara serampangan naik mobil bak terbuka usai kegiatan belajar, Selasa (18/09/2018) sekira pukul 09.30 WIB.

Mobil bak terbuka dengan nopol B 9519 BAR tampak membiarkan belasan anak yang diperkirakan berusia 11 -12 tahun menumpang di mobilnya. Sang sopir pun seolah tak sanggup membendung laju anak-anak yang riuh berteriak ‘bang nebeng bang’, karena mereka langsung saja melompat ke bamper kendaraan itu.

Keadaan tersebut juga hampir mengakibatkan salah satu siswa tertabrak kendaraan yang melaju dari arah sebaliknya, karena sebagian mencoba naik bak terbuka dari tengah jalan.

Kesemua siswa sekolah dasar tersebut turun di pertigaan sebelum jalan Dewi Sartika, Pancoran Mas, Depok.

Potret tersebut menimbulkan banyak opini buruk masyarakat tentang mutu pendidikan di Kota Depok. Banyak yang menyayangkan kenapa pihak sekolah seolah membiarkan anak-anak lepas dari pengawasan.

Salah satunya NY (43), warga Pitara, Kepada ujung pena, ia menuturkan bahwa kejadian tersebut kerap terlihat di depan sekolah yang dekat dengan Kelurahan Pancoran Mas.

“Sering mas anak-anak itu naik kendaraan bak terbuka disini. Kadang jumlahnya bisa lebih dari 20 orang,” katanya.

Menurut dia, kejadian tersebut kerap terulang lantaran di lokasi itu sering terjadi kemacetan. “Apalagi jam pulang sekolah. Kendaraan menumpuk disini. Jadi jika ada bak terbuka yang berhenti, anak-anak langsung saja pada naik,”.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, M. Thamrin ketika di konfirmasi wartawan lewat telepon seluler belum memberi tanggapan.

Berenang, Alih-Alih Pungli SDN Mampang 3

Oknum kepala sekolah SDN Mampang 3 diduga lakukan pungli pada masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2018. Hal tersebut berdasarkan pengakuan salah satu orang tua, MB (39), warga Mampang.

Dengan dalih kurang usia, MB diminta mengeluarkan sejumlah uang agar anaknya diterima di SDN Mampang 3. Namun atas kesadarannya, ia lebih memilih memasukkan anaknya ke sekolah swasta. Ia mengaku tidak ingin mengajarkan anaknya berbohong.

Lain dari PPDB, rupanya praktik pungli masih menyisakan banyak celah. Salah satunya dengan kegiatan outdoor, berenang.

Belakangan ini, sempat ada orang tua siswa yang mengeluhkan banyaknya praktik yang mengeluarkan biaya agak besar. Salah satunya Riv (40), warga Mampang.

Ia katakan setiap siswa diwajibkan ikut renang agar nilai olahraga tidak nol.

“Bukan masalah renangnya, tapi masalah biayanya. 35 ribu per-anak dinilai kecil bagi sebagian orang tua, tapi yang lainnya?,” Gumam Riv heran.

Pihak sekolah juga diketahui meminta dana lebih, jika orang tua anak yang berenang ikut mendampingi. “Orang tua diminta menambah biaya 35 ribu lagi jika mau ikut ke kolam renang,” ujarnya.

Sempat dihubungi, Kepala Sekolah  SDN Mampang 3 lebih memilih memblokir nomor penghubung. Wartawan ujung pena sempat melaporkan adanya dugaan pungli yang dilakukan oleh oknum kepsek SDN Mampang 3 kepada Kadisdik, M. Thamrin. Namun belum ada tindak lanjut yang dilakukan, karena hal seperti ini kerap terjadi di seluruh sekolah di Kota Depok. (Lk)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *